Manajemen Gereja Dalam Tubuh GBI

Dalam mengelola gereja kerap kali mendapat kritikan; di satu sisi gereja dikelola sebagaimana maunya pendeta. Karena disebut gereja tidak boleh dikelola dengan manajeman murni. Padahal, di sisi lain, dalam konteks keberadaannya di muka bumi ini, gereja sebagai bagian dari organisasi di dunia, membutuhkan manajemen untuk mendukung pelayanan.

Seorang ahli manajemen, Peter F Drucker menulis, konsep manajemen Gereja mengatakan, “The word management denotes a function and also a people who discharge it. It denotes a social position and rank but also a discipline.” Memahami makna manajemen yang  perlulah ditekankan adalah bahwa manajemen dari kacamata utuh adalah suatu seni yang telah dipraktekkan untuk jangka waktu panjang dalam berbagai bentuk.

Tulisan tersebut juga ditujukan untuk para pengelola gereja. “Gereja yang tidak dikelola dengan baik akan mengalami kendala, pendeta sering dikeluhkan bahwa manajemen kantor gereja dan pelayanan gereja yang tidak baik dan harus diperbaiki. Perlu waktu yang lumayan lama untuk menyakinkan para pendeta bahwa manajemen sangat diperlukan dalam pelayanan gerejawi. Tanpa manajemen maka pelayanan tidak bisa maksimum dan efisien.”

Manajemen dalam lingkup pertama, dikembangkan oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915) yang dikenal sebagai The Father of Scientific Management yang mengawali penemuannya dengan bekerja sebagai seorang magang dan pekerja pada The Enterprise Hydraulic Works di Philadelphia (1875-1878).
Temuan ketidak-efisienan ini adalah antara lain, tidak ada standar kerja, tidak ada acuan pengembangan kerja, tidak ada ketentuan hubungan kerja, dan lain sebagainya, dimana berdasarkan temuan ini, ia akhirnya mengembangkan suatu sistem manajemen pertokoan terkoordinasi yang sekarang disebut manajemen ilmiah.

Ada tiga bentuk organisasi di dunia; Gereja Episkopal, Gereja Evangelikal, Gereja Sinodal. Ketiga organisasi ini punya kelemahan dan kelebihan masing-masing, gereja terlihat juga dari manajemennya. Sistim organisasi gereja ada tiga: Mengelola gereja memang perlu satu menajemen khusus, dikelola dengan ketulusan dan dengan hati terbuka.

Selama ini ada gereja tidak dikeloala dengan administrasi yang baik. Artinya, gereja juga harus memiliki kantor dapat mengerjakan tugas-tugas pelayanan, administrasi untuk memperbaiki pelayanan, dan juga menangani berbagai hal yang terkait dengan gereja. Tetapi tidak juga harus dilaksanakan dengan organisasi konvensional, atau pengelolaan organisasi kantor yang birokratif.

Jabatan gerejawi atau tugas kepemimpinan adalah terutama pemberian Tuhan, bukan “pencapaian” baik melalui pendidikan formal maupun keahlian yang lahir dari pengalaman, walaupun semuanya itu penting. Para pemimpin yang disebut di dalam Alkitab lebih menekankan peranan “hati” ketimbang keahlian dan pengalaman. Pelayanan bukan keikutsertaan, bukan pengalihan dari Yesus.

Inti dari pelayanan adalah; dasar pelayanan adalah Karakter, Sifat pelayanan adalah Pengabdian. Motif pelayanan adalah Kasih. Ukuran pelayanan adalah Pengorbanan. Kekuatan pelayanan adalah Penyerahan diri. Hanya dengan demikian seorang pemimpin dapat memiliki visi dan misi dari Yesus. Jika tidak, pemimpin hanyalah menciptakan visi dan misinya sendiri.

Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasehat banyak ” (Amsal 15:22). Manajemen dalam kaitan ini dapat diartikan sebagai “suatu proses kepemimpinan yang diwujudkan dalam satu sistem kerja terpadu yang olehnya pemimpin dapat menggunakan upaya kinerja sinergis (bekerja bersama dan bekerja melalui bawahan) guna mencapai tujuan yang telah dicanangkan.

Pendeta Dr Yakob Tomatala, seorang teolog ahli manajemen mengatakan,  memanajemeni bagi seorang pemimpin berarti menjalankan proses menajemen, sehingga ia haruslah piawai mengkoordinasi, membuat perencanaan strategis, mengorganisir tugas dan menempatkan orang yang pas, dan melaksanakan upaya memimpin.
Manajer secara khusus ada pada level manajerial sebagai pendukung setiap pemimpin top (top leader/top manager) yang olehnya ia bertanggung jawab melaksanakan tugas teknokrat (tugas menyiapkan dasar-dasar normatif bagi pelaksanaan tugas), tugas supporting staf (tugas staf pendukung) dan middle line manager (manajer lini), yang memimpin pelaksanaan kerja secara langsung, sebagai atasan dari para administrator.

Manajemen Surga Itu Anti Birokrasi

Menurut Sekretaris Umum GBI (Gereja Bethel Indonesia) Pdt. Ferry Haurisa, GBI mengadopsi sistem Apostolik Sinodal. Bicara manajemen gereja, menurutnya, manajemen gereja semua sama saja dan baik adanya. Pada dasarnya manajemen itu tata kelola. “Yang membedakan itu, ada kata gereja. Maka di situ ada sedikit kekhususan. Gereja ini adalah bisnisnya Tuhan, bukan bisnisnya manusia. Sehingga kita tidak bisa secara full menerapkan sebuah sistem manajemen murni di gereja,” ujarnya.

Dia memberi contoh, di perusahaan besar, tata kelolanya itu ada standard secara umum dan diperlakukan secara umum. “Di gereja berbeda. Orang mau datang ke gereja dengan berbagai macam pergumulan dan kepenatannya, gereja harus bisa melayani dengan baik sehingga terjawab apa yang dibutuhkan jemaat,” katanya.

Apostolik Sinodal itu otonom gaya kepemimpinannya. “Jadi komandonya ada di gembala sidang. Sehingga orang-orang yang dipilih menjadi gembala sidang adalah orang yang takut akan Tuhan dan mentaati firman Tuhan sepenuhnya. Di samping itu, secara organisasi, Sinode yang mengelola dan mengkoordinasikan gereja-gereja lokal. BPH (Badan Pekerja Harian) Sinode sebagai wadah semua ada di situ, mengkoordinir dan mengorganisir. Tapi kekuatan ada pada gereja lokal,” katanya.

Kekuatan Apostolisk Sinodal seperti di GBI adalah di gereja lokal setempat. “Otonom yang dimaksud seperti di GBI adalah gembala mempunyai kebijakan tersendiri dalam mengembangkan pelayanan jemaat lokal. Tapi soal aturan main, seperti doktrin dan pendisiplinan itu menjadi urusan Sinode pusat, harus menyatu. Soal liturginya, memang bervariasi, tapi tidak beda jauh,” jelasnya.

“Kepemimpinan Apostolik Sinodal itu tidak mengikat orang atau tidak kaku. Dan dunia sedang bergerak menuju hal yang lebih bebas lagi. Tentunya, kalau kita mengembangkan dengan pola kaku, orang zaman sekarang tidak mau begitu. Bebas yang bagaimana? Bebas yang terpimpin. Yang artinya tertib dan bertanggungjawab. Karena itu, janganlah kita menyalahgunakan kebebasan itu. Justru kebebasan itu dipakai agar bisa lebih berkreasi lagi,” tukasnya.

“GBI juga menerapkan profesionalisme, yaitu orang yang ahli di bidangnya. Jangan lupa, tata kelola gereja harus lebih disiplin daripada di luar. Harus bisa menerapkan sanksi-sanksi kepada mereka yang tidak disiplin, artinya sanksi itu bukan hukuman, tapi sebagai pembinaan. Dengan dia menerima sanksi, dia tahu kesalahannya, dia mau memperbaiki supaya dia kembali lagi pada Tuhan,” katanya.

“Semua fungsi-fungsi dalam manajemen yang ada itu sebenarnya sudah ada di dalam gereja sendiri. Meski demikian, masih ada gereja-gereja yang masih tetap mempertahankan cara-cara yang sudah lama. Misalkan, menempatkan orang-orang tertentu untuk menangani gereja. Ditempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan, yang sudah kelewat  umurnya, di tempatkan di bagian administrasi dan lainnya. Nah, di zaman sekarang sudah tidak bisa seperti itu,” ungkapnya.
Ditambahkan, untuk sekarang ini, kita mesti lihat, orang-orang muda yang masih berpotensi, itu yang mesti dimanfaatkan sebagai contoh, sekretariat gereja untuk menangani administrasi dan lain-lain, maka itu harus betul-betul dimanfaatkan dengan cara-cara modern, tapi sentuhan-sentuhan kasih itu yang utama.

Melihat fenomena yang berkembang selama ini, seperti orangtuanya gembala maka secara otomatis anaknya akan bisa menjadi gembala. Dia menjelaskan, “Di GBI hal seperti itu bisa saja terjadi, meskipun tidak semua. Karena kalau tidak ada orang lagi, dan anak yang paling dihargai itu adalah anak pendeta itu sendiri. Dan bila pendeta itu memang melibatkan anaknya dalam pelayanan untuk dipersiapkan menggantikan. Kalau anak tidak terlibat dalam pelayanan, pasti jemaat juga tidak akan pilih.”
“Tata kelola itu tertuang dalam AD/ART, misalkan untuk pusat, daerah, dan lokal. Regenerasi untuk penggembalaan di gereja lokal, tetap gembala yang mempersiapkan. Misalkan ada hal yang di luar dugaan, tiba-tiba gembala gereja lokal setempat dipanggil Tuhan, maka ada pengurus wilayah bersama para pelayan yang ada untuk menanganinya sementara waktu jemaat yang ada agar tidak terlantar,” ujarnya.

“Maka itu untuk terjaga stabilitas jemaat yang ada, pengurus wilayah bersama pelayan yang ada perlu ada komunikasi dan kerjasama yang baik. Selama belum ada gembala yang definitif, Pengurus Badan Pekerja Wilayah datang melayani secara bergilir untuk melihat kira-kira siapa yang cocok di situ,” jelasnya.

Soal pengelolaan aset, dia menerangkan, itu tentu diteruskan oleh orang yang sudah terpilih. “Artinya, itu juga dikelola dengan seluruh pengurus jemaat, karena semua barang bergerak dan tidak bergerak, yang didapat melalui biaya atau gereja lokal, maka milik gereja setempat, bukan Sinode. Milik Sinode itu yang umum, barang bergerak dan tidak bergerak yang dibiayai Sinode. Misalkan tanah dan gedung yang dibiayai oleh Sinode, itu miliki Sinode, jemaat lokalnya Sinode tidak campur tangan. Bahkan yang dibeli oleh Sinode pun, Sinode tidak urus, Sinode menyerahkan pada Pengurus Badan Pekerja Wilayah. Tetapi dibawah pengawasan Sinode. Artinya barang itu tidak bisa dijual semena-mena. Itu milik umum,” terangnya.

“Mengenai penempatan tukar mimbar bergilir itu yang menentukan adalah gembala gereja lokal, sinode tidak mencampuri itu. Urusan pengkhotbah atau pendeta tamu, itu gembala yang menentukan. Bahkan soal keuangan pun, sinode tidak mencampuri itu. Diserahkan oleh jemaat gereja lokal. Gereja lokal diwajibkan membayar iuran, atau dengan kata lain perpuluhan gereja lokal ke sinode,” ujarnya.

GBI ada di semua Aras Nasional

Yang paling unik, GBI juga ada di semua aras gereja nasional yaitu PGI, PGLII, dan PGPI. Ini semua tentu ada sejarahnya. “Karena kita semua adalah Tubuh Kristus, harus berjejaring dengan semua, dan bergandengan tangan untuk melayani umat Tuhan, khususnya di Indonesia yang majemuk ini,” jelasnya.
“Kita harus melayani Tuhan sesuai kebutuhannya masing-masing. Karena itu gereja harus menempatkan orang berkualitas untuk melayani kebutuhan jemaat. Melayani Tuhan itu mesti cepat dan tepat, tidak bisa ditunda-tunda. Karena pelayanan kan langsung. Di GBI itu berjalan apa adanya. Jangan terlalu banyak penghalang, atau birokrasi,” ungkapnya.

“Karena Surga itu anti birokrasi. Contoh, Tuhan Yesus itu anti birokrasi, Dia marah kok Bait Allah jadi tempat dagangan. Allah anti birokrasi, maka Ia mengutus AnakNya untuk melepaskan birokrasi itu. Dengan mati di kayu salib, tirai Bait Allah terbelah. Tidak ada birokrasi. Kalau dulu Imam mau datang ke Tuhan harus melalui Ruang Suci dan Ruang Maha Suci di Bait Allah (Tabernakel). Dia langsung korbankan diriNya sendiri. Karena itu, birokrasi harus dihapus.” Artinya, ia jelaskan, dalam hal-hal tertentu untuk melayani, jiwa orang itu dulu harus diselamatkan. “Urusan belakangan. Misalkan, ada orang sakit kita harus layani dulu, tidak bisa tunggu. Apalagi dengan birokrasi yang rumit,” jelasnya.

Kemudian kriteria untuk gembala gereja lokal, itu sudah diatur oleh gereja. “Jenjangnya harus menjadi pengerja minimal selama 4 tahun, mendampingi gembala yang sudah ada, baru diusulkan untuk menjadi pendeta pembantu. Dia harus mengikuti pembinaan, dan harus mengikuti ujian yang diselenggarakan pengurus daerah.

“Misalkan ingin membuka pelayanan gereja lokal, maka harus melaporkan rencana pembukaan  jemaat lokal melalui Pengurus Wilayah yang ada. Nanti mendapat arahan, supaya berjalan tertib sesuai aturan,” tandasnya. (\n NP\)

About these ads

About bpdbalintb

Blog Resmi Badan Pekerja Daerah Gereja Bethel Indonesia Bali _ Ntb
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s