Pelatihan Konseling

Rekan-rekan sepelayanan,

Pelatihan Konseling

Rabu 22 April 2015.

Pk 10.00-17.00 wita

Di GBI Shallom Dps
(kerjasama WBI Korda dan Bidang Pembinaan BPD)

Gratis…

Topik:
1 Fungsi Konseling
2. Skill Dasar Konseling
3. Mitos Konseling
4. Fakta Konseling.
5 Mikro Skill (respon minimal konseling)
6. Konseling Klinis…

Gratis, pendaftaran terakhir BESOK, Kamis, 16 April 2015

Yang dianjurkan untuk ikut :
Bapak dan Ibu Gembala.
Ketua, Bendahara, Sekretaris WBI setempat.

Daftarkan diri Anda segera.
Melalui BBM 5229 0541 atau email wayan_maria@yahoo.co.id

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Keputusan SMD XIX BPD GBI BALI – NTB, Vila Like View Bedugul 21-22 Agustus 2013

  1.   Membeli alat fogging (untuk Lombok dan Sumbawa) secepatnya.
  2.   Untuk calon pejabat baru harus mengisi form yang tersedia dengan lengkap dan benar serta melampirkan KTP, KK dan surat nikah bagi yang sudah menikah. Untuk calon yang Bukan warga Indonesia harap lebih diperhatikan lagi persyaratannya.
  3.  Persiapan pemekaran BPD untuk NTB tahun mendatang, calon Pdt yang akan ujian, jika memenuhi syarat maka tahun 2014 akan ada pemilihan ketua BPD Bali dan Ketua BPD NTB.

 4  Untuk lancarnya proses terbitnya kartu jabatan (Pdp, Pdm, Pdt) maka semua pejabat wajib mengisi form permohonan kartu pejabat baru yang diisi dengan lengkap dan benar, ditandatangani oleh pemohon, Gembala Pembina (untuk Pdp dan Pdm) dan ketua BPD serta di stempel asli. Berhubung sangat banyak form yang diisi tidak lengkap serta ada yang tidak ditandatangani oleh gembala Pembina maka disepakati untuk semua Pejabat mengisi ulang form permohonan kartu jabatan yang baru dan dikirim ke BPD selambat-lambatnya 31 Agustus 2013.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Doulus Camp Bagi Calon Pejabat GBI DI Bali – NTB

ImageDoulos Camp bukanlah retreat biasa karena yang mengikuti harus dipilih oleh Pemimpin Jemaat & mendapat kehormatan dapat mengikuti DC. Doulos Camp sendiri adalah berupa Impartasi Nilai Luhur Kehambaan Kristus dan merupakan start awal Kesepakatan seluruh pemimpin & pekerja untuk memiliki gaya hidup pelayanan yang baru dan berupa Experiental Learning jadi ada Komandan, Satgas & Disiplin tinggi.

Hal yang perlu diketahui dalam pelaksanaan Doulos Camp:
1. DC dilaksanakan oleh BEC Pusat, BPD menjadi Fasilitator pelaksana.
2. 1 Hari Pra-Camp, dan 2 Hari Camp (7 Sessi)
3. Pemimpin mengundang secara khusus pelayan – pekerja di gerejanya (Undangan Khusus – Format Undangan DC dari BEC)
4. Peserta DC
-Jumlah /camp min. 60 orang, dan max. 250 orang.
-Sudah terlibat dalam pelayanan.
-Ditunjuk oleh pemimpinnya/atas persetujuan pemimpin (bukan siapa saja yang mau ikut).
-Haus mengalami perubahan.
5.Ada Standarisasi layanan yang ditetapkan oleh BEC (Acara, tempat – perlengkapan – Breafing awal sebelum DC)

GOAL DC
1. Impartasi Nilai Luhur KEHAMBAAN KRISTUS.
2. Peserta memiliki Paradigma Baru tentang NILAI DASAR PELAYAN TUHAN.
3. Motivasi, kedisiplinan meningkat.
4. Meningkatkan hubungan dengan intensif dengan OTORITASNYA (oleh karena itu dalam CAMP pemimpin/gembala wajib hadir).
5. Meningkatkan hubungan di antara TIM PELAYAN yang SOLID.
6. Memiliki HATI YANG LEMBUT sebagai seorang hamba dan TEGAS sebagai seorang Prajurit.

Tempat pelaksanaan : DOULOS CAMP Tgl. 6-7-8 Juni @ BITDEC-Pantai Nyanyi.

Contact Person : Pdm. Wayan Sukra : PIN BB 2967EA7 – Phone : 085737218767

                            Bpk Samuel Joko Budisantoso  : Email ; joko_nina@yahoo.co.id

                            No Rek DC :BCA Samuel joko Budisantoso – Ac ; 6110305778

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Seminar & KKR Anak – BE KID`S

 

    Terobosan  DPA GBI Bali – Ntb

BROCHURE - SEMINAR & KKR ANAKDi awal Tahun pelayanan 2012 Bertepatan dengan bulan Paskah – Kematian, Kebangkitan, Kenaikan serta Pencurahan Roh Kudus, Maka Departemen Pemuda Dan Anak GBI BPD Bali – Ntb  terpanggil dan di gerakan Tuhan untuk melakukan terobosan  bagi generasi   penerus di bali serta khususnya bagi generasi Gereja Bethel Indonesia di wilayah Kerja BPD Bali – Ntb.

Setelah mengadakan rapat koordinasi di  GBI Bukit Moria, Jl. Gatot Subroto IV Denpasar maka terbentuk Panitia KKR Anak -& Seminar Pelayanan Anak yang sedianya akan di Lakukan pada Tanggal 23 April bertempat di Hall Utama Menorah Lembah Pujian Pukul 15.00 Wita – 17.00 Wita – sedangkan untuk Seminar Pelayanan Anaknya akan dilakukan keesokan harinya yaitu tanggal 24 April 2012 bertempat di Ruang Menoarah Lembah Pujian yang sedianya di mulai pada pukul 09.00 – 21.00 wita.

Sangat di harapakan kepada gembala – gembala GBI yang sudah mendapatkan  pemberitahuan lewat email dan  sms dari panitia agar bisa mengkordinasikan hal yang dimaksud tersebut diatas kepada para pelayan anak dan pemuda di gereja lokal masing masing serta warga jemaat untuk terlibat dalam KKR Anak Sekota ini serta Seminar Pelayanan Anak

Program DPA GBI Bali  – Ntb yang di komandai oleh Pdm Adi Suryo Wibowo selaku  ketua KPD DPA Bali – NTB, luar biasa dalam memprogram acara  jauh- jauh hari sudah di setting sedemikian rupa sehingga acara ini akan menjadi acara KKR dan seminar anak Se-Bali. Acara ini  akan dilayani oleh team ‘Be Kids’ dari Jakarta, dengan beberapa Pembicara yang mendedikasikan dirinya dalam pelayanan anak dan terkenal dalam bidangnya antara lain Pdt. Suryadi Sunarko – Pdm. Martha, S.Th – Pdp. Hermanto Nugroho.

Gratis untuk pendaftaran dapat menghubungi Email: baligoldenkidz@yahoo.co.id – hp 08123836553 – Hp +628123926249 /ibu. Vonny -Pendaftaran utk menyiapkan makalah dan konsumsi. Bapak Ibu dan saudara bisa juga  mengkonfirmasi kehadiran ke No. 083 119910 636.

 untuk itu kami sangat mengharapakan peran dari Gembala-Gembala GBI Bali-NTB
serta  Ketua KPA & Ketua Komisi Anak untuk terlibat dalam proyek Allah untuk generasi ini – atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih. Tuhan Yesus Gembala anak-anak memberkati kita semua.

Salam Sejahtera :
Pengurus Daerah Departemen Pemuda & Anak GBI Bali-NTB (PD DPA Bali-NTB) serta Panitia KKR Anak Sekota & Seminar Pelayanan Anak

Sampai Jumpa pada KKR Anak Sekota & Seminar Pelayanan Anak

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Undangan Fellowship Pejabat GBI

 


Ykks : Pejabat GBI

Ada Fellowship pejabat dan pasangan dalam bentuk Leadership Seminar bersama Drs. Sigit Triyono MM Di Menorah Hall Rock Lembah Pujian Denpasar, Rabu 11 Januari 2012, Pkl.13.00 – 16.30 Wita – Gratis dan wajib – daftar via sms ke : 083119910636 – tolong di infokan ke rekan sesama pejabat GBI – Terimakasih atas kerjasamanya, Tuhan Yesus berkati, Sampai berjumpa Besok – Sekretariat BPD

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PELATIHAN TAGANA (TARUNA SIAGA BENCANA) 9-11 NOVEMBER 2011 DI PULAU SERANGAN

Shalom, Para Pemimpin dan Gembala GBI se Bali Ntb, Program Badan Pekerja Daerah GBI Melalui  TAGANA ( Taruna Siaga Bencana ) Akan mengadakan  Pelatihan Bagi sukarewalan yang bergabung dengan Program ini, serta menindaklanjuti hasil keputusan Sidang Majelis di  Lombok tentang program Misi maka kami Dari Badan Pekerja Daerah GBI Bali – Ntb menginformasikan kepadpara pemimpin dan Gembala untuk mengirmkan wakilnya minimal 2 orang dari setiap Gereja lokal untuk mengikuti program ini, yang akan di lakukan pada tanggal 9 – 11 November di pulau serangan Denpasar Bali  oleh karena itu kami memohon bantuannya untuk diteruskan ke Jemaat SEGERA, berhubung konfismasi final minggu depan. Diharapkan sekali kerjasamanya, agar acara ini dapat berjalan baik. Jika ada pertanyaan atau info lanjut hubungi: 081 338 79 60 atau email ke : wayan_maria@yahoo.com ( Sekretaris BPD) untuk mendapatkan formulir pendaftaran yang akan di kirim  kepada rekan para pemimpin semuanya via email. Terimakasih,  Tuhan Yesus memberkati pelayanan  rekan Gembala dan para Pemimpin semua sementara anda semua melayani Dia.

Akhir kata akhirnya sampai berjumpa Para relwan kristus pelatihan TAGANA 9 – 11 November 20011 di Pulau Serangan.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Manajemen Gereja Dalam Tubuh GBI

Dalam mengelola gereja kerap kali mendapat kritikan; di satu sisi gereja dikelola sebagaimana maunya pendeta. Karena disebut gereja tidak boleh dikelola dengan manajeman murni. Padahal, di sisi lain, dalam konteks keberadaannya di muka bumi ini, gereja sebagai bagian dari organisasi di dunia, membutuhkan manajemen untuk mendukung pelayanan.

Seorang ahli manajemen, Peter F Drucker menulis, konsep manajemen Gereja mengatakan, “The word management denotes a function and also a people who discharge it. It denotes a social position and rank but also a discipline.” Memahami makna manajemen yang  perlulah ditekankan adalah bahwa manajemen dari kacamata utuh adalah suatu seni yang telah dipraktekkan untuk jangka waktu panjang dalam berbagai bentuk.

Tulisan tersebut juga ditujukan untuk para pengelola gereja. “Gereja yang tidak dikelola dengan baik akan mengalami kendala, pendeta sering dikeluhkan bahwa manajemen kantor gereja dan pelayanan gereja yang tidak baik dan harus diperbaiki. Perlu waktu yang lumayan lama untuk menyakinkan para pendeta bahwa manajemen sangat diperlukan dalam pelayanan gerejawi. Tanpa manajemen maka pelayanan tidak bisa maksimum dan efisien.”

Manajemen dalam lingkup pertama, dikembangkan oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915) yang dikenal sebagai The Father of Scientific Management yang mengawali penemuannya dengan bekerja sebagai seorang magang dan pekerja pada The Enterprise Hydraulic Works di Philadelphia (1875-1878).
Temuan ketidak-efisienan ini adalah antara lain, tidak ada standar kerja, tidak ada acuan pengembangan kerja, tidak ada ketentuan hubungan kerja, dan lain sebagainya, dimana berdasarkan temuan ini, ia akhirnya mengembangkan suatu sistem manajemen pertokoan terkoordinasi yang sekarang disebut manajemen ilmiah.

Ada tiga bentuk organisasi di dunia; Gereja Episkopal, Gereja Evangelikal, Gereja Sinodal. Ketiga organisasi ini punya kelemahan dan kelebihan masing-masing, gereja terlihat juga dari manajemennya. Sistim organisasi gereja ada tiga: Mengelola gereja memang perlu satu menajemen khusus, dikelola dengan ketulusan dan dengan hati terbuka.

Selama ini ada gereja tidak dikeloala dengan administrasi yang baik. Artinya, gereja juga harus memiliki kantor dapat mengerjakan tugas-tugas pelayanan, administrasi untuk memperbaiki pelayanan, dan juga menangani berbagai hal yang terkait dengan gereja. Tetapi tidak juga harus dilaksanakan dengan organisasi konvensional, atau pengelolaan organisasi kantor yang birokratif.

Jabatan gerejawi atau tugas kepemimpinan adalah terutama pemberian Tuhan, bukan “pencapaian” baik melalui pendidikan formal maupun keahlian yang lahir dari pengalaman, walaupun semuanya itu penting. Para pemimpin yang disebut di dalam Alkitab lebih menekankan peranan “hati” ketimbang keahlian dan pengalaman. Pelayanan bukan keikutsertaan, bukan pengalihan dari Yesus.

Inti dari pelayanan adalah; dasar pelayanan adalah Karakter, Sifat pelayanan adalah Pengabdian. Motif pelayanan adalah Kasih. Ukuran pelayanan adalah Pengorbanan. Kekuatan pelayanan adalah Penyerahan diri. Hanya dengan demikian seorang pemimpin dapat memiliki visi dan misi dari Yesus. Jika tidak, pemimpin hanyalah menciptakan visi dan misinya sendiri.

Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasehat banyak ” (Amsal 15:22). Manajemen dalam kaitan ini dapat diartikan sebagai “suatu proses kepemimpinan yang diwujudkan dalam satu sistem kerja terpadu yang olehnya pemimpin dapat menggunakan upaya kinerja sinergis (bekerja bersama dan bekerja melalui bawahan) guna mencapai tujuan yang telah dicanangkan.

Pendeta Dr Yakob Tomatala, seorang teolog ahli manajemen mengatakan,  memanajemeni bagi seorang pemimpin berarti menjalankan proses menajemen, sehingga ia haruslah piawai mengkoordinasi, membuat perencanaan strategis, mengorganisir tugas dan menempatkan orang yang pas, dan melaksanakan upaya memimpin.
Manajer secara khusus ada pada level manajerial sebagai pendukung setiap pemimpin top (top leader/top manager) yang olehnya ia bertanggung jawab melaksanakan tugas teknokrat (tugas menyiapkan dasar-dasar normatif bagi pelaksanaan tugas), tugas supporting staf (tugas staf pendukung) dan middle line manager (manajer lini), yang memimpin pelaksanaan kerja secara langsung, sebagai atasan dari para administrator.

Manajemen Surga Itu Anti Birokrasi

Menurut Sekretaris Umum GBI (Gereja Bethel Indonesia) Pdt. Ferry Haurisa, GBI mengadopsi sistem Apostolik Sinodal. Bicara manajemen gereja, menurutnya, manajemen gereja semua sama saja dan baik adanya. Pada dasarnya manajemen itu tata kelola. “Yang membedakan itu, ada kata gereja. Maka di situ ada sedikit kekhususan. Gereja ini adalah bisnisnya Tuhan, bukan bisnisnya manusia. Sehingga kita tidak bisa secara full menerapkan sebuah sistem manajemen murni di gereja,” ujarnya.

Dia memberi contoh, di perusahaan besar, tata kelolanya itu ada standard secara umum dan diperlakukan secara umum. “Di gereja berbeda. Orang mau datang ke gereja dengan berbagai macam pergumulan dan kepenatannya, gereja harus bisa melayani dengan baik sehingga terjawab apa yang dibutuhkan jemaat,” katanya.

Apostolik Sinodal itu otonom gaya kepemimpinannya. “Jadi komandonya ada di gembala sidang. Sehingga orang-orang yang dipilih menjadi gembala sidang adalah orang yang takut akan Tuhan dan mentaati firman Tuhan sepenuhnya. Di samping itu, secara organisasi, Sinode yang mengelola dan mengkoordinasikan gereja-gereja lokal. BPH (Badan Pekerja Harian) Sinode sebagai wadah semua ada di situ, mengkoordinir dan mengorganisir. Tapi kekuatan ada pada gereja lokal,” katanya.

Kekuatan Apostolisk Sinodal seperti di GBI adalah di gereja lokal setempat. “Otonom yang dimaksud seperti di GBI adalah gembala mempunyai kebijakan tersendiri dalam mengembangkan pelayanan jemaat lokal. Tapi soal aturan main, seperti doktrin dan pendisiplinan itu menjadi urusan Sinode pusat, harus menyatu. Soal liturginya, memang bervariasi, tapi tidak beda jauh,” jelasnya.

“Kepemimpinan Apostolik Sinodal itu tidak mengikat orang atau tidak kaku. Dan dunia sedang bergerak menuju hal yang lebih bebas lagi. Tentunya, kalau kita mengembangkan dengan pola kaku, orang zaman sekarang tidak mau begitu. Bebas yang bagaimana? Bebas yang terpimpin. Yang artinya tertib dan bertanggungjawab. Karena itu, janganlah kita menyalahgunakan kebebasan itu. Justru kebebasan itu dipakai agar bisa lebih berkreasi lagi,” tukasnya.

“GBI juga menerapkan profesionalisme, yaitu orang yang ahli di bidangnya. Jangan lupa, tata kelola gereja harus lebih disiplin daripada di luar. Harus bisa menerapkan sanksi-sanksi kepada mereka yang tidak disiplin, artinya sanksi itu bukan hukuman, tapi sebagai pembinaan. Dengan dia menerima sanksi, dia tahu kesalahannya, dia mau memperbaiki supaya dia kembali lagi pada Tuhan,” katanya.

“Semua fungsi-fungsi dalam manajemen yang ada itu sebenarnya sudah ada di dalam gereja sendiri. Meski demikian, masih ada gereja-gereja yang masih tetap mempertahankan cara-cara yang sudah lama. Misalkan, menempatkan orang-orang tertentu untuk menangani gereja. Ditempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan, yang sudah kelewat  umurnya, di tempatkan di bagian administrasi dan lainnya. Nah, di zaman sekarang sudah tidak bisa seperti itu,” ungkapnya.
Ditambahkan, untuk sekarang ini, kita mesti lihat, orang-orang muda yang masih berpotensi, itu yang mesti dimanfaatkan sebagai contoh, sekretariat gereja untuk menangani administrasi dan lain-lain, maka itu harus betul-betul dimanfaatkan dengan cara-cara modern, tapi sentuhan-sentuhan kasih itu yang utama.

Melihat fenomena yang berkembang selama ini, seperti orangtuanya gembala maka secara otomatis anaknya akan bisa menjadi gembala. Dia menjelaskan, “Di GBI hal seperti itu bisa saja terjadi, meskipun tidak semua. Karena kalau tidak ada orang lagi, dan anak yang paling dihargai itu adalah anak pendeta itu sendiri. Dan bila pendeta itu memang melibatkan anaknya dalam pelayanan untuk dipersiapkan menggantikan. Kalau anak tidak terlibat dalam pelayanan, pasti jemaat juga tidak akan pilih.”
“Tata kelola itu tertuang dalam AD/ART, misalkan untuk pusat, daerah, dan lokal. Regenerasi untuk penggembalaan di gereja lokal, tetap gembala yang mempersiapkan. Misalkan ada hal yang di luar dugaan, tiba-tiba gembala gereja lokal setempat dipanggil Tuhan, maka ada pengurus wilayah bersama para pelayan yang ada untuk menanganinya sementara waktu jemaat yang ada agar tidak terlantar,” ujarnya.

“Maka itu untuk terjaga stabilitas jemaat yang ada, pengurus wilayah bersama pelayan yang ada perlu ada komunikasi dan kerjasama yang baik. Selama belum ada gembala yang definitif, Pengurus Badan Pekerja Wilayah datang melayani secara bergilir untuk melihat kira-kira siapa yang cocok di situ,” jelasnya.

Soal pengelolaan aset, dia menerangkan, itu tentu diteruskan oleh orang yang sudah terpilih. “Artinya, itu juga dikelola dengan seluruh pengurus jemaat, karena semua barang bergerak dan tidak bergerak, yang didapat melalui biaya atau gereja lokal, maka milik gereja setempat, bukan Sinode. Milik Sinode itu yang umum, barang bergerak dan tidak bergerak yang dibiayai Sinode. Misalkan tanah dan gedung yang dibiayai oleh Sinode, itu miliki Sinode, jemaat lokalnya Sinode tidak campur tangan. Bahkan yang dibeli oleh Sinode pun, Sinode tidak urus, Sinode menyerahkan pada Pengurus Badan Pekerja Wilayah. Tetapi dibawah pengawasan Sinode. Artinya barang itu tidak bisa dijual semena-mena. Itu milik umum,” terangnya.

“Mengenai penempatan tukar mimbar bergilir itu yang menentukan adalah gembala gereja lokal, sinode tidak mencampuri itu. Urusan pengkhotbah atau pendeta tamu, itu gembala yang menentukan. Bahkan soal keuangan pun, sinode tidak mencampuri itu. Diserahkan oleh jemaat gereja lokal. Gereja lokal diwajibkan membayar iuran, atau dengan kata lain perpuluhan gereja lokal ke sinode,” ujarnya.

GBI ada di semua Aras Nasional

Yang paling unik, GBI juga ada di semua aras gereja nasional yaitu PGI, PGLII, dan PGPI. Ini semua tentu ada sejarahnya. “Karena kita semua adalah Tubuh Kristus, harus berjejaring dengan semua, dan bergandengan tangan untuk melayani umat Tuhan, khususnya di Indonesia yang majemuk ini,” jelasnya.
“Kita harus melayani Tuhan sesuai kebutuhannya masing-masing. Karena itu gereja harus menempatkan orang berkualitas untuk melayani kebutuhan jemaat. Melayani Tuhan itu mesti cepat dan tepat, tidak bisa ditunda-tunda. Karena pelayanan kan langsung. Di GBI itu berjalan apa adanya. Jangan terlalu banyak penghalang, atau birokrasi,” ungkapnya.

“Karena Surga itu anti birokrasi. Contoh, Tuhan Yesus itu anti birokrasi, Dia marah kok Bait Allah jadi tempat dagangan. Allah anti birokrasi, maka Ia mengutus AnakNya untuk melepaskan birokrasi itu. Dengan mati di kayu salib, tirai Bait Allah terbelah. Tidak ada birokrasi. Kalau dulu Imam mau datang ke Tuhan harus melalui Ruang Suci dan Ruang Maha Suci di Bait Allah (Tabernakel). Dia langsung korbankan diriNya sendiri. Karena itu, birokrasi harus dihapus.” Artinya, ia jelaskan, dalam hal-hal tertentu untuk melayani, jiwa orang itu dulu harus diselamatkan. “Urusan belakangan. Misalkan, ada orang sakit kita harus layani dulu, tidak bisa tunggu. Apalagi dengan birokrasi yang rumit,” jelasnya.

Kemudian kriteria untuk gembala gereja lokal, itu sudah diatur oleh gereja. “Jenjangnya harus menjadi pengerja minimal selama 4 tahun, mendampingi gembala yang sudah ada, baru diusulkan untuk menjadi pendeta pembantu. Dia harus mengikuti pembinaan, dan harus mengikuti ujian yang diselenggarakan pengurus daerah.

“Misalkan ingin membuka pelayanan gereja lokal, maka harus melaporkan rencana pembukaan  jemaat lokal melalui Pengurus Wilayah yang ada. Nanti mendapat arahan, supaya berjalan tertib sesuai aturan,” tandasnya. (\n NP\)

Posted in Uncategorized | Leave a comment